seringkali kita melihat bayi tersenyum sendiri..waktu tidur, waktu ngelamun.. mitosnya, dia sedang senyum ke bidadarinya.. mmm.. sebenernya sih, bayi senyum menunjukkan bahwa dia itu part of human, makhluk sosial. Tapi lain ceritanya ketika ia senyum di usia-usia tertentu. Senyum yang mengembang ketika usianya kurang dari 3 bulan (bahkan ketika masih di womb!) itu sebenernya tanda bahwa ia mengalami sensasi yang menyenangkan.. belum menunjukkan interaksi dengan yang lain. Jadi, jangan ge-er dulu, buat yang disenyumin.. hehe. Biasanya bayi akan tersenyum ketika sedang tertidur, mengantuk, sedang makan or nenen atau sedang dipeluk bundanya.. sensasional! Nah, jika usianya sudah 3 bulan, baru deh.. makhluk sosialnya berperan. Senyum itu sudah berarti.. artinya ia benar-benar menikmati interaksi. Tapi, jangan berlebihan deh.. jika dia terus menerus tertawa dan tersenyum .. selanjutnya menoleh atau buang muka, (sebelum ketawa or senyum lagi) , harus hati-hati.. itu tandanya dia sudah capek! Berhentilah membuatnya tersenyum dan tertawa.. kesian bowwwwwwwww... toh masih panjang waktu untuk menikmati keindahan dunia itu di lain waktu.. ciao!
minggu minggu terakhir ini baca koran, denger berita.. aneh-aneh deh.. pengusaha yang diduga menyuap jaksa mengaku jual beli permata, rajin bagi-bagi modal, punya permata ratusan dengan harga milyaran.. ih.ih.ih.. meski bukti yang diajukan jelas adanya konspirasi, masih keukeuh bahwa duit milyaran itu cuma buat dagang..bukan buat suap.. antek-antek yang disuap dan bagian dari konspirasi pun, sama aja dudulnya keukeuh sama alasan masing-masing.. seakan tutup mata bahwa publik pun .. publik yang bodoh pun, tau.. bahwa itu sebuah konspirasi.. ih.ih.ih.. apa mereka pikir, kita semua ini buta, tuli dan bisu ya ? ih.ih.ih.. skarang, petugas hukum yang harus dengan tegas dan lihai menelikung pejabat-pejabat haus harta ini. karena sumpah jabatan, ternyata gak cukup. harga diri sudah gak ada. siapa paling pinter ngeles dan paling banyak modal, itu yang menang.. ih.ih.ih.. hari gini.. belum lagi berita-berita aneh dari kalangan bawah.. rasanya pejabat sama rakyat jelata emang cermin satu sama lain.. anak SD dibunuh hanya karena ngeledek oom-nya yang kawin sama perempuan bukan perawan.. untuk membuktikan bahwa perawan sama gak perawan itu rasanya sama aja, temen anak tersebut diperkosa dalam keadaan mati! ih.ih.ih.. trus kabur.. motornya ditinggalkan.. trus balik lagi.. motor diambil. dudul kan.. dudul karena perbuatannya membunuh orang dengan motif seperti itu, dan dudul karena gak bisa menahan nafsu mengambil motor .. karenanya gampang ditangkap tanpa bisa berkilah.. ih.ih.ih... dan masihhhhhh banyak lagi berita aneh yang .. bikin geleng-geleng kepala..betapa, masyarakat kita, yang sedang berkembang ini, masih primitif dan sangat mudah tergoda nafsunya demi hal-hal gak penting.. bangsa kita memang sedang dikurung oleh anomi.. ketiadaan nilai-nilai.. kejujuran, harga diri, martabat.. entah sudah melayang kemana.. 
wuih.. antriannya puanjang........ padahal ada 3 theathre yang buka.. ya di 21, ya di blitz.. wuih..wuih.. emang ditunggu-tunggu sih ya.. akhirnya kita dapet tiket juga.. meski harus pisah-pisah.. hehehe.. adek Raiza juga ikut.. sambil bobok dan nenen tentunya hihihi.. Kung Fu Panda merupakan pelem animasi lucu dengan story line yang sederhana namun sarat filsuf. Karenanya pantes banget ditonton anak hingga kakek nenek. Ndilalah emang kemaren yang nonton banyakan orang dewasa ketimbang anak-anak. Joke-nya juga sarkas, bikin yang nonton terpingkal-pingkal ngetawain semuanya, termasuk diri sendiri. Ini cerita tentang panda ndut (ya iya, mana ada panda kurus..hehehe) penggemar berat kung fu. Dari segi fisik, gak janji deh kalo ia bisa dipercaya jadi Pendekar Naga. Tapi semua itu bisa brubah hanya karena sebuah KEPERCAYAAN. Ya sih.. bisa krena percaya bahwa itu bisa, emang kunci semua sukses.. Untuk yang mau liat lengkapnya, bisa dicek di sini. 
gak tau ini true story or not, indeed I'm touched! EIGHT LIES OF A MOTHER This story begins when I was a child: I was born poor. Often we hadn't enough to eat. Whenever we had some food, Mother often gave me her portion of rice. While she was transferring her rice into my bowl, she would say 'Eat this rice, son! I'm not hungry.' This was Mother's First Lie. As I grew, Mother gave up her spare time to fish in a river near our house; she hoped that from the fish she caught, she could give me a little bit more nutritious food for my growth. Once she had caught just two fish, she would make fish soup. While I was eating the soup, mother would sit beside me and eat what was still left on the bone of the fish I had eaten; My heart was touched when I saw it. Once I gave the other fish to her on my chopstick but she immediately refused it and said, 'Eat this fish, son! I don't really like fish.' This was Mother's Second Lie. Then, in order to fund my education, Mother went to a Match Factory to bring home some used matchboxes which she filled with fresh matchsticks. This helped her get some money to cover our needs. One wintry night I awoke to find Mother filling the matchboxes by candlelight. So I said, 'Mother, go to sleep; it's late: you can continue working tomorrow morning.' Mother smiled and said 'Go to sleep, son! I'm not tired.' This was Mother's Third Lie When I had to sit my Final Examination, Mother accompanied me. After dawn, Mother waited for me for hours in the heat of the sun. When the bell rang, I ran to meet her. Mother embraced me and poured me a glass of tea that she had prepared in a thermos. The tea was not as strong as my Mother's love, Seeing Mother covered with perspiration; I at once gave her my glass and asked her to drink too. Mother said 'Drink, son! I'm not thirsty! This was Mother's Fourth Lie. After Father's death, Mother had to play the role of a single parent. She held on to her former job; she had to fund our needs alone. Our family's life was more complicated. We suffered from starvation. Seeing our family's condition worsening, my kind Uncle who lived near my house came to help us solve our problems big and small. Our other neighbors saw that we were poverty stricken so they often advised my mother to marry again. But Mother refused to remarry saying 'I don't need love.' This was Mother's Fifth Lie. After I had finished my studies and gotten a job, it was time for my old Mother to retire but she carried on going to the market every morning just to sell a few vegetables. I kept sending her money but she was steadfast and even sent the money back to me. She said, 'I have enough money.' That was Mother's Sixth Lie. I continued my part-time studies for my Master's Degree. Funded by the American Corporation for which I worked, I succeeded in my studies. With a big jump in my salary, I decided to bring Mother to enjoy life in America but Mother didn't want to bother her son; she said to me 'I'm not used to high living.' That was Mother's Seventh Lie In her dotage, Mother was attacked by cancer and had to be hospitalized. Now living far across the ocean, I went home to visit Mother who was bedridden after an operation. Mother tried to smile but I was heartbroken because she was so thin and feeble but Mother said, 'Don't cry, son! I'm not in pain.' That was Mother's Eighth Lie. Telling me this, her eighth lie, she died. YES, MOTHER WAS AN ANGEL! M - O - T - H - E - R 'M' is for the Million things she gave me, 'O' means Only that she's growing old, 'T' is for the Tears she shed to save me, 'H' is for her Heart of gold, 'E' is for her Eyes with love-light shining in them, 'R' means Right, and right she'll always be, Put them all together, they spell 'MOTHER' a word that means the world to me. For those of you who are lucky to be still blessed with your Mom's presence on Earth, this story is beautiful. For those who aren't so blessed, this is even more beautiful. source pic : Dorothea Lange, Migrant Mother;, Nipomo, California 1936
Minggu lalu, setelah bargain sama ayah Zahra, akhirnya Zahra boleh nonton pelem ini..hehehe.. dengan catatan, bunda harus siap-siap tutup mata Zahra. Ada adegan hottie dottie soalnya. Mungkin karena udah mules terus dan badan berat banget diangkat, kali ini gak bgitu konsentrasi nontonnya. Yang jelas, pelemnya, standar pelem hero .. teknologinya canggih.. humoris dan yang paling kentara, ya narsis! Jadi untuk ente-ente yang narsis.. pasti seneng banget sama gaya si Tony Stark yang dimainkan oleh Robert Downey Jr. Kayaknya emang harus aktor satu ini deh, yang maen.. kalo gak, rasanya aneh... hehehe... Yang bikin sirik, Tony: udah kaya, ganteng, baik hati, pinter banget dan punya duit lagi.. mimpi banget tokohnya. Si manusia bajanya juga genit deh.. warna merah emas gitu.. keren banget kalo ada suvenirnya.. hahaha! Jeff Bridges juga bermain keren.. dan ya, siapa yang gak tau gaya Gwyneth Paltrow.. polos-polos gimanaaa gitu.. karakter yang slalu dia bawa kemana pun dia maen pelem.. hmmm... Anyway, pelem ini cukup menghibur, box office dimana-mana.. meski gak ada apa-apa yang bisa dibawa.. ceritanya klise gitu.. Untuk yang blom nonton, boleh niy jadi pilihan.. ya.. ketimbang pelem2 aneh laen yang di pajang.. ref. bisa didapat di sini, sini dan sini illust, dari sini
yup! up until now.. it reaches 71s!!! boiled it up to next 17th .. the feeling I have inside is so absurd and weird... how will she look like ? is 4D not enough ? will I strong enough ? will things run smooth ? will the clothes well prepared ? will she be ok ? can I support her best ? another 7 - the month I have to decide, back to work community or stay at home.. 7 supposed to be my favorite number.. supposed to be the lucky one for great decision in life.. ah, help me God! illust. from here
Biasanya tulisan begini, aku masukkan ke sini, tapi kali ini.. bolehlah di-share di sini.. Suka penasaran kenapa ada website seseorang lebih populer ketimbang yang lain ? Trus, kenapa ya, orang kerap bolak balik ke website tersebut ? Ini rahasianya: Yang penting ISInya ! beneran.. isinya alias content merupakan syarat utama website yang kerap dikunjungi orang. 1. Isinya musti menarik dan diperbaharui terus menerus. Website jenis ini harus fokus agar mampu memiliki pangsa pasar dan menjadikan mereka pengunjung rutin. Bagaimana supaya isi tetap menarik dan diperbaharui terus ? Buatlah website dengan fitur blog atau news update. Isinya ya, berita-berita aktuil dan fokus. Jangan tamak dengan memasukkan semua berita, kecuali website kamu emang temanya gado-gado. Tapi percayalah, tema gado-gado seringkali tidak sukses di pasaran. Alasannya sederhana: pangsa pasarnya jadi gak jelas, kecuali kamu buat segmen-segmen sendiri dan dipecah menjadi beberapa topik. Kalau maksa mau gado-gado, ya bikin blog. Nah, blog sendiri punya tema yang fokus juga kan.. apa itu diari perjalanan hidup kamu, portofolio, tips menarik buat pembaca dan sebagainya. Jadi, jelilah memutuskan ISI website. Kalau gak yakin isinya fokus, tersegmentasi dan diperbaharui terus.. pikir ulang tujuan kamu membuat website. 2. Isinya berisi sumber-sumber referensi yang diminati orang. Buatlah pembaca terbius dengan informasi akurat yang kamu punya. Ini butuh energi dan jam terbang tinggi. Seiring waktu, kamu bisa mempelajari siapa pembaca websitemu dan apa yang mereka butuhkan dari media yang kamu tawarkan. Contohnya, website yang menyajikan tutorial maupun artikel khusus mengenai suatu subyek. 3. Memiliki komunitas interaktif. Sering kali kita sebut social network features, fitur jejaring sosial. Website seperti ini biasanya memiliki fitur forum, wiki maupun fitur lain yang tujuannya membangun jaringan sosial. Website model ini memberi kesempatan pada pembaca / pemakainya untuk ikut terlibat mengisi website. Tanpa keterlibatan pemakai, website ini tidak akan bicara banyak ! Contoh website seperti ini adalah facebook, digg, dst. Tips agar pemakai / pembaca tetap loyal dan aktif memperbaharui isi website cuma satu: minta mereka melanggan website. Sediakan fitur subscribe / keanggotaan maupun agregator / feed / RSS sebagai alat lacak berita bagi pelanggan. Tidak menafikan desain dan peluang inovasi lain, cobalah tanyakan dirimu sendiri: mengapa website itu perlu ditandai ? disimpan sebagai favorite dan di bookmark ? mengapa perlu kembali ke website itu lagi ? apa yang menarik ? mengapa perlu merekomendasikan web itu ke teman-teman ? Dengan menjawab pertanyaan tersebut, berjuanglah untuk membangun website populermu sendiri! Gutlak!
Begitu denger ada apartemen murah, subsidi dan di lokasi strategis.. rasanya seneng banget. Pas baca peraturannya, langsung tau diri.. ini memang untuk rakyat. Tambah seneng! Itu artinya rumah susun yang jelek bakal ilang.. bedeng-bedeng bakal punah.. Tapi, mimpiiiiiiiii kali! Kok mimpi ??? Apartemen-apartemen itu memang sudah dibangun, sudah dijual dan beberapa sudah siap untuk dihuni. Tapi, sebagaimana dugaan awal, pastinya target user gak kecapai. Maunya buat orang miskin, eh.. yang naek mercy pun, punya aset disini.. lha, kok bisa ? Crita ini sama seperti jualan bensin saja. Terkagum-kagum ngeliat bmw seri baru pake premium, yang note bene subsidi juga.. lha piye ? Trus, untuk rakyat miskinnya mana ? hehehe.. ini mungkin masalah mental aja. prinsip ekonomi: kalo ada yang murah, kenapa musti beli yang mahal? Gak peduli, barang itu harga murah untuk siapa.. Yang tau diri, cuma manggut-manggut, gak bisa protes.. Yang gak tau diri, cuek ajah.. gak peduli.. duit-duit gue ini.. barang-barang gue ini.. siapa suruh jadi orang miskin!  Yang mustinya diketawain, ya.. pemerintahnya.. ya komitmen penjualnya.. lha, kalau sanksi sosial aja gak jalan.. trus, mau dibawa kemana negri ini ? ke hutan ? hehehee.. hutannya juga dah gak ada.. diberangus dan dialihfungsi demi kongsi bagi-bagi rejeki.. Mumpung kali ya.. mumpung punya kesempatan, ya diambil aja.. kesempatan kan, gak dateng dua kali.. Mo so idealis.. nti dulu kali yaw.. mumpung teori evaluasi: "yang perkasa doang yang berhak hidup ajah" masih berjaya.. hidup orang kaya! terima kasih subsidi! 
Belakangan, Zahra agak males-malesan latihan Tae Kwon Do.. Ini lantaran jadwalnya dikurangi, karena bentrok dengan les yang lain. Trus, keliatannya sejak ganti manajemen, jurusnya kok gak nambah-nambah. Kurang variatif. Anak-anak juga kurang serius. Nah, dalam rangka meningkatkan semangatnya kembali, dan memberi opsi lain, aku ajak dia nonton film ini. Siapa tau, semangat bertarungnya, eh.. olahraganya bangkit lagi. Ada kemungkinan wushu menjadi jadwal tambahan untuk kelas tiga, selaen berkuda dan renang.. (weh, kok jadi kebanyakan olah raga ya.. mo jadi atlet apa ? hehehe). The Forbidden Kingdom adalah pelem martial arts versi Hollywood yang dibintangi jagoan kung fu Jackie Chan dan Jet Li. Kebayang kan, dua tuyul kungfu ini maen bareng! Kocak banget judulnya. Gerakan Kung Fu nya juga mantep pisan. Zahra sampe gak kedip-kedip. Sejatinya ini memang pelem anak-anak or remaja. Alur ceritanya sederhana dan gampang banget ditebak. Tapi tetap saja sangat menarik dan menghibur. Ada banyak pelajaran yang disempil tanpa menggurui penonton muda. Di Amerika sendiri, rekor pelem ini bener-bener bikin pangling. Box office dimana-mana. Cina bener-bener unjuk gigi di sgala bidang skarang. Ya digjaya di bidang ekonomi, budaya dan skarang mampu nunjukin ke dunia hollywood yang amat sangat pro barat beralih ke timur. Salut lah! Cewek-cewek cina yang ikutan pelem ini juga cantik-cantik banget, dan jagoan! Liat saja aksi Liu Yi Fey dan Li Bingbing.. kejam yang lembut dan memikat.. mmm... Yang menarik buat aku adalah hutan bambu dan sakura-nya.. kok ngingetin Jepang ya.. dan kok ya, bambu itu bisa berdiri sendiri-sendiri ya, gak grombolan kayak disini.. hehehe.. ngawur pisan atensinya :D Satu hal lagi. Kita nonton di cineplex 21 di cibubur. murah banget euy! sepuluh rebo sajah! budget makanan kayaknya lebih mahal deh.. hahahaha! (slama ini ngeluh terus, harga cabe merah sekilo dah 30 ribu!!) anyway, untuk liat ref, silahkan ke sini: http://en.wikipedia.org/wiki/The_Forbidden_Kingdom
hayu..hayu.. tanem bambu.. udara bersih, burung-burung juga mampir :D Cracking the code to 'the perfect plant' opens a path to saving the planet By Paula Bock If Jackie Heinricher's Chilean feather bamboo hadn't flowered in her Skagit County garden 10 years ago, we might, this very moment, be snacking on the latest, greatest gourmet craze: crunchy chips made from bamboo shoots. But flower it did, a once-in-a-century phenomenon. All over the world, from Argentina to Alameda to Anacortes, every clump of Chusquea culeou unfurled fairy-like fans of pointy mauve petals and dancing chartreuse pods. Inside the pods nestled tiny seeds that Heinricher carefully stripped off by hand and germinated with the help of a local tissue-culture lab. It was a horticultural feat that eventually left Heinricher with 10,000 baby bamboos. Even more significant? The ideas sprouting in Heinricher's head — ideas that blossomed into a bamboo empire beyond gardens. Four years ago, Heinricher and tissue-culture expert Randy Burr discovered how to clone bamboo in a test tube after years of arduous experimentation. Now, Heinricher's multimillion-dollar high-tech company, Boo-Shoot Gardens in Mount Vernon, produces more than 2 million plants a year and has launched a "Plant-a-Boo" crusade to curb global warming. Heard of the United Nations program to plant a billion trees for the planet? Bamboo sequesters carbon dioxide at far higher rates than an equivalent stand of trees and releases up to three times the amount of oxygen. Saving the planet wasn't on Heinricher's radar when she cleared pasture in Anacortes and planted her first stand. She'd worked as a marine scientist, Army nurse, professional scuba diver, ski bum, whale-watch tour guide — but nothing quite like this. Her business plan hadn't yet gelled, but she knew bamboo had fabulous qualities and she loved it. "The idea that bamboo could have a meaning or a purpose above and beyond horticulture? You can't even entertain those thoughts without the ability to pump out millions of plants. It took eight full years to bring the technology to fruition." While Heinricher and Burr were tinkering in the lab, consumers developed a craving for bamboo floors, bamboo towels, bamboo trays for bamboo plates. And the world started worrying about climate change. Not only do the hairy plants capture carbon, they "collect dust and dirt out of the air and make the rain fall more gently on the ground," says Gib Cooper, a nurseryman in Gold Beach, Ore., and executive director of Bamboo of the Americas, a conservation-action organization. "I hate to say it: The world's population and economy are going to outpace whatever we try to do. But bamboo will help." "I feel like the company's at the epicenter of a big place and time," says 48-year-old Heinricher. "This is a collision of breakthrough technology, a demand for bamboo products and global warming. I didn't have the brilliant foresight to see it, but it's pretty common in business that where you wind up is not where you thought you'd be." TO HEINRICHER, bamboo is the perfect plant. Thomas Edison used carbonized bamboo filament in his first light bulb; Alexander Graham Bell created his first phonograph needle from a bamboo sliver. With tensile strength up to 52,000 pounds per square inch, bamboo is stronger than most steel, yet its fibers can be spun into a silky cloth blessed by natural antimicrobials. Since antiquity, bamboo has been cooked as food and crafted into chopsticks, houses, boats, furniture, scaffolding, farm tools, medical instruments and art. It's been gulped as an aphrodisiac and swallowed as a treatment for asthma, kidney failure, venereal disease and cancer. Unlike cotton, bamboo doesn't require pesticides to flourish. It needs modest amounts of water to thrive — some species rise a foot a day during growing season — and its root system can help stabilize hillsides and prevent erosion. When you harvest some of a stand's canes, the underground rhizomes survive and continue to quickly produce mature culms, unlike trees that die when chopped down. The woody grass grows on every continent except at the poles. Its more than 1,200 species include giant temperate timber bamboos such as Moso, of "Crouching Tiger, Hidden Dragon" fame; hardy mountain bamboos such as Wolong, Fargesia robusta, a favorite snack of pandas, and dwarf Pleioblastus distichus, a ground-cover bamboo so compact you can mow it. Clumping bamboos, such as Heinricher's Chilean feather babies, don't spread and won't terrorize the neighborhood — unlike the unruly rhizomes of running bamboos. But bamboo does have a dark side: There isn't enough of it. World demand is so high that old, naturalized bamboo forests are being chopped down for textiles, lumber and pulp, creating havoc for resident wildlife. Other times, grand bamboo stands are uprooted to clear the way for roads and development, crops such as sugar cane or timber plantations to satisfy the planet's hunger for wood. Before tissue culture, it wasn't feasible to farm bamboo on large-scale plantations because it was hard to find enough seed or divisions to plant. Despite their invasive reputation, bamboos are in short supply because most species flower and produce seed only once every 60 to 120 years, and propagation by division is labor intensive and iffy. That all changed with the advent of cloned bamboo. "We've never had a true supply of bamboo," Heinricher says. "We don't know how big the market will be." Boo-Shoot is the main commercial player in America, successfully cloning bamboo types that can be used for horticulture, agriculture, industry and carbon mitigation. A Belgian company, Oprins, clones mostly landscape bamboo. This winter, Heinricher retrofitted her greenhouses, enabling her company to produce 4 million plants a year. Heinricher sees bamboo as an alternate lumber and source of pulp for paper, a way to ease pressure on trees. Bamboo plantations on unused agricultural land could be sustainably harvested while simultaneously functioning as carbon sinks. And, she asks, what about highway plantings for erosion control and noise reduction? Asia, South America and Europe totally "get" bamboo, using the woody grass in hundreds of ways, Heinricher says, but America has yet to embrace bamboo for serious agriculture or industrial planting. As it is, American companies buy bamboo products in Asia and ship them here on freight containers. Not fuel efficient. "Why," Heinricher says, "are we creating more carbon pollution and perpetuating the same old bad practices?" Already, Boo-Shoot is noodling deals with corporate titans from Asia. Heinricher loves to tell of a Korean-Chinese executive who jetted into Sea-Tac, then motored by limo up to the humble lab set among potato fields and furniture outlets. At first, he didn't believe that here, in Mount Vernon, they'd figured out how to clone bamboo when the process hadn't been cracked on a commercial scale in bamboo's heartland, Asia. Then, Heinricher showed him racks of test tubes filled with tiny bamboos and trays of little bamboo seedlings. Tears welled in his eyes. "It was very emotional," Heinricher says, "for all of us." THE BAMBOO empress was born in Seattle and grew up mostly in Olympia, the middle daughter among three girls and a boy. "She is different from the other kids," says her father, Jack Heinricher, who now lives in Arizona. "Her sisters are kind of laid back. Jackie wasn't. She took charge and wanted to be the leader. She'd step out in front and try to do things, and if things didn't go well, she was passionate about results." Intense and dramatic, her family dubbed her "the actress." Heinricher's mom was a homemaker; her father served as assistant state auditor. He was also an avid gardener who planted golden bamboo wherever they lived, the kids trailing him in the yard as he divided clumps and cut runners. Jackie: "I remember playing in it, a little jungle. I always thought it was pretty neat. It just makes this incredible noise, and you could crawl through it and make stuff out of the poles, and it has birds in it, and it was always this enchanting little hiding place." Heinricher's parents divorced when she was about 12, and she moved to Colorado with her mom. "It was one of those divorces, a little bit cantankerous, and it hit Jackie in particular because she's so passionate," her father says. He describes her teenage years as "wild and wandering." Heinricher recalls she skied a lot, left school, earned a GED. Joining the Army was a turning point. She trained as a nurse in the Panama Canal Zone and worked the emergency room. She also learned to scuba dive in tropical waters and did some underwater side jobs for the Smithsonian Institution, which whet her appetite for studying marine biology. After leaving the military, she traveled solo around Asia for a year ("saw a lot of amazing bamboo"), earned a degree in biology at the Evergreen State College, then applied for graduate school in fisheries at Tennessee Tech University. Phil Bettoli, a research scientist with the U.S. Geological Survey who directs the school's grad students, remembers their first meeting and his surprise that Evergreen had no grades, just a dossier. "This was the first indication this was not going to be your typical grad student." She was older, more mature, well traveled. "We didn't get students from the Pacific Northwest in Tennessee," Bettoli says. "It was a whole different attitude about the world. Thinking out of the box. Constantly asking questions. Approaching her research with fresh eyes." Heinricher's graduate work, on freshwater mussels, studied the impact of a huge dam project on water temperature and mussel reproduction. Typical grad students would have hung out with other fish-and-wildlife researchers, relying heavily on traditional methods and studies, Bettoli says. Heinricher took an original tack. "She ended up hooking up with medical folks in town to do histology," working with microscopes and slides. Heinricher's findings helped spur dam officials to periodically release warmer water to trigger mussel spawning. Her longtime friend, Holly Martin, remembers first meeting Heinricher when touring the house Heinricher and her then-husband were selling. Aroma wafted from a giant pile of chopped garlic on the kitchen table. "It smells great! I love garlic!" Martin told Heinricher. They got to talking about food, music, became fast friends. Martin and her husband bought the house. Heinricher recalls those years as "a lot of good times, and a bad marriage." When Heinricher divorced, Martin and her husband invited her to live with them while finishing her master's degree. Martin: "Jackie wakes up at the crack of dawn and has an agenda every morning, doesn't go to bed until she drops." And whether she's well off or on the edge of disaster, "she still wears her blue jeans and her work gloves and has a keen interest in farming equipment." The following year, when Heinricher met Guy Thornburgh, Martin knew he'd be The One. Heinricher and Thornburgh had worked together on fisheries projects, mostly via telephone, for years. When they finally shared a couple beers at a conference and realized they were both available, it was kismet. "She always seemed so cheery and ambitious," Thornburgh says. "I'd have long commutes on the ferry to Shaw (Island) and I'd think of her and write poems, and she'd write back." Thornburgh, who owns a marine technology company, had recently purchased seven acres on Campbell Lake in Anacortes; Heinricher moved back to the Northwest and they married. She knew it would be tough to find a fisheries job here because the Northwest spawns an overabundance of fisheries experts. Plus, she'd always wanted to try bamboo and now, finally, had acreage. They hired a guy with a tractor to plow up the pasture; Heinricher and a girlfriend planted the first groves from one-gallon containers. Initially, Heinricher thought she'd market sliced edible bamboo shoots and sell poles for garden projects. But she discovered bamboo didn't spread fast enough in the Northwest's temperate climate to make poles profitable, and she needed a value-added product to make money from shoots. (Thus the kitchen experiments with bamboo-shoot chips. Salty sesame was the best, Thornburgh says.) She tried selling plants wholesale, for the nursery trade, but again, couldn't produce enough through division. Then, her Chilean bamboo flowered. Heinricher stayed out in the greenhouse past dark every night, settling her bamboo-lets into 5 ½-inch pots while listening to Sting. "People thought I was nuts. How was I ever going to get rid of 10,000 bamboo plants?" she says. "I thought it was the most wonderful work, and I was excited about it." She also realized that once her seedlings were sold (it took five years), that was it. No more seeds. She became determined to crack the tissue-culture code. REMEMBER THE Boston fern craze? Those ruffly green fronds in the hanging macrame planters with the big wooden beads? Thank Randy Burr. Burr pioneered commercial propagation of Boston ferns in 1973, started this country's first commercial tissue-culture lab and has since cloned numerous horticultural hits: lily bulbs, orchids, birch trees, Japanese maples, cabbage and cauliflower for seed production. He co-owned the Mount Vernon lab where Heinricher germinated her Chilean bamboo seeds and was impressed by her success. But when she asked him to tissue-culture bamboo? "I just rolled my eyes," he recalled. "I knew bamboo would be difficult. I had tried it before with no success." She kept coming around with plant material. "If you have patience, I'll try it," he told her. "No promises." Tissue culture is a four-step process. First, you sterilize a cutting of the plant in bleach, bathe it in a solution of inorganic salts, vitamins, plant hormones and sugar and set it in agar gel. Step 2: Get the plant to make side shoots and replant them in more gel. Stage 3: Stop the multiplying and encourage root growth. Step 4: Acclimatize the plants for the real world by growing them in dirt in the greenhouse. "Most plants, maybe one of those steps will give you a problem," Burr says. With bamboo, "every one of those four steps was a battle." Burr rubs the top of his balding head when describing his initial failures: "Oh, I'm good at killing plants, especially good at bamboo. Those first years, I killed thousands." After six months, a cutting sent out roots — wild celebration! — but then withered and died. For two more years, no luck. "Look Jackie, it's not going to work. I can't afford to do this," Burr told her. "She was like, Yeah Yeah Yeah. Gotta have bamboo! Her enthusiasm definitely kept me going." She paid for the research by selling the Chilean feather bamboos, "creative financing," personal investment and a trip to the bank. Carrie Cammock, assistant vice president at People's Bank in Mount Vernon: "It was one of the most unique loan requests I've ever worked on, if I can diplomatically say it that way." After more than four years of trial and error, Burr developed the magic formula for Crookstem bamboo, then Sunset Glow, Fargesia 'Rufa,' a mountain clumper. "The first plants we put out, we were maybe charging $5 and they had to be worth thousands of dollars each," Heinricher says. "Plus, people were still wrinkling their noses and saying: 'Oh, it's bamboo.' It's something people have to be a little more educated to appreciate." BUT WILL they? After touring the amazing bamboo specimen garden at Heinricher's Anacortes home, we drive to Boo-Shoot's Mount Vernon lab in her Ford Explorer. She needs a big rig for her two German shorthairs, she says, and feels bad about her fuel consumption, even though she's planted enough bamboo to mitigate seven lifetimes of gas guzzlers. That spurs talk about bamboo's role on the global stage; Heinricher recently talked with members of Washington's congressional delegation on Capitol Hill about bamboo's carbon-scrubbing capabilities and potential use domestically for other products. A logging truck whizzes by, loaded with hefty firs. "Wouldn't it be nice to see bamboo poles in the stacker?" Heinricher asks. If you're stuck in a traditional evergreen mindset, it's hard to envision an alternative Northwest landscape. But why not? With gas prices soaring and the earth ever warming, something has to change in the oil economy. We spin past the belching Anacortes oil refinery, various RV and tractor dealerships, a brand new sawmill. "Heartbreaking that it's not a bamboo facility," Heinricher says. Imagine underutilized farmland growing 50- to 70-foot bamboos, she says. "We could put those people in Longview back to work." Think of the vineyards now blanketing Walla Walla's hillsides. Before they were there, somebody had a vision to plant all those grapes. We pull into Boo-Shoot's parking lot and Heinricher heads back to check the greenhouses. Minute by minute, a million tiny bamboo-lets are quickly outgrowing their trays. Paula Bock is a Pacific Northwest magazine staff writer. E-mail: pbock@seattletimes.com. Tom Reese is a Seattle Times staff photographer. Copyright © 2008 The Seattle Times Company Sumber : http://seattletimes.nwsource.com/html/pacificnw/2004360712_pacificpbamboo20.html
Weekend kemaren, sluruh rencana bubar lantaran terik tak terhingga. Akhirnya kita mutusin buat ngadem.. and so pasti, jadinya mampir ke bioskop. Nyari pilem anak, gak ada.. ya akhirnya, nonton ini. Pelem sejarah yang disederhanakan. Pelemnya seru dan menyentuh.. Tapi buat penggemar happy ending, silahken sebel.. GAK ADA HAPPY ENDING. Trus, gak disarankan bawa anak-anak.. aku sampe pegel nutupin mata Zahra karena adegannya "cukup" mengerikan untuk ukuran anak-anak. Ya iyalah... untuk dewasahhhhhhhh gitu lho! Seperti komentar diatas, ini emang cerita sejarah yang disederhanakan. Menampilkan klise kehidupan seorang warrior dengan background perang. No kehidupan pribadi, no glory afterall atas nama kesuksesan kerja. Sesuatu yang sulit diukur ketika kita kembali balik bertanya, "untuk apa semua itu dikerjakan". Sama seperti intrik-intrik kehidupan biasa.. ada dendam, ada pengkhianatan.. ada secuil cinta yang harus mengalah demi karir.. demi kedigjayaan bernama kekuasaan.. hiks! klise abis! Dari segi teknik, pelem mahal ini, keren banget. Maggie Q tampil cantik dan kejam! Andy Lau.. ya sutralah.. udah tau deh.. pasti keren hehehe.. Untuk lengkapnya, liat disini aja ya.. http://www.three-kingdoms.com/. Untuk sejarah asli, meski bikin lieur, tapi menarik, bisa diliat disini: http://en.wikipedia.org/wiki/Three_Kingdoms Gambar, dicuri dari sini: http://www.oneinchpunch.net/wordpress/wp-content/uploads/2007/06/three-kingdoms1.jpg Selamat menonton!
hasil nyuri.. ;)) 22 Tanda Iman Anda Sedang Lemah Oleh: Mochamad Bugi dakwatuna.com - Ada beberapa tanda-tanda yang menunjukkan iman sedang lemah. Setidaknya ada 22 tanda yang dijabarkan dalam artikel ini. Tanda-tanda tersebut adalah: 1. Ketika Anda sedang melakukan kedurhakaan atau dosa. Hati-hatilah! Sebab, perbuatan dosa jika dilakukan berkali-kali akan menjadi kebiasaan. Jika sudah menjadi kebiasaan, maka segala keburukan dosa akan hilang dari penglihatan Anda. Akibatnya, Anda akan berani melakukan perbuatan durhaka dan dosa secara terang-terangan. Ketahuilah, Rasululllah saw. pernah berkata, "Setiap umatku mendapatkan perindungan afiat kecuali orang-orang yang terang-terangan. Dan, sesungguhnya termasuk perbuatan terang-terangan jika seseirang melakukan suatu perbuatan pada malam hari, kemudian dia berada pada pagi hari padahal Allah telah menutupinya, namun dia berkata, `Hai fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begini,' padahal sebelum itu Rabb-nya telah menutupi, namun kemudian dia menyibak sendiri apa yang telah ditutupi Allah dari dirinya." (Bukhari, 10/486) Rasulullah saw. bersabda, "Tidak ada pezina yang di saat berzina dalam keadaan beriman. Tidak ada pencuri yang si saat mencuri dalam keadaan beriman. Begitu pula tidak ada peminum arak di saat meminum dalam keadaan beriman." (Bukhari, hadits nomor 2295 dan Muslim, hadits nomor 86) 2. Ketika hati Anda terasa begitu keras dan kaku. Sampai-sampai menyaksikan orang mati terkujur kaku pun tidak bisa menasihati dan memperlunak hati Anda. Bahkan, ketika ikut mengangkat si mayit dan menguruknya dengan tanah. Hati-hatilah! Jangan sampai Anda masuk ke dalam ayat ini, "Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi." (Al-Baqarah:74) 3. Ketika Anda tidak tekun dalam beribadah. Tidak khusyuk dalam shalat. Tidak menyimak dalam membaca Al-Qur'an. Melamun dalam doa. Semua dilakukan sebagai rutinitas dan refleksi hafal karena kebiasaan saja. Tidak berkonsentrasi sama sekali. Beribadah tanpa ruh. Ketahuilah! Rasulullah saw. berkata, "Tidak akan diterima doa dari hati yang lalai dan main-main." (Tirmidzi, hadits nomor 3479) 4. Ketika Anda terasas malas untuk melakukan ketaatan dan ibadah. Bahkan, meremehkannya. Tidak memperhatikan shalat di awal waktu. Mengerjakan shalat ketika injury time, waktu shalat sudah mau habis. Menunda-nunda pergi haji padahal kesehatan, waktu, dan biaya ada. Menunda-nunda pergi shalat Jum'at dan lebih suka barisan shalat yang paling belakang. Waspadalah jika Anda berprinsip, datang paling belakangan, pulang paling duluan. Ketahuilah, Rasulullah saw. bersabda, "Masih ada saja segolongan orang yang menunda-nunda mengikuti shaff pertama, sehingga Allah pun menunda keberadaan mereka di dalam neraka." (Abu Daud, hadits nomor 679) Allah swt. menyebut sifat malas seperti itu sebagai sifat orang-orang munafik. "Dan, apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas." Jadi, hati-hatilah jika Anda merasa malas melakukan ibadah-ibadah rawatib, tidak antusias melakukan shalat malam, tidak bersegera ke masjid ketika mendengar panggilan azan, enggan mengerjakan shalat dhuha dan shalat nafilah lainnya, atau mengentar-entarkan utang puasa Ramadhan. 5. Ketika hati Anda tidak merasa lapang. Dada terasa sesak, perangai berubah, merasa sumpek dengan tingkah laku orang di sekitar Anda. Suka memperkarakan hal-hal kecil lagi remeh-temeh. Ketahuilah, Rasulullah saw. berkata, "Iman itu adalah kesabaran dan kelapangan hati." (As-Silsilah Ash-Shahihah, nomor 554) 6. Ketika Anda tidak tersentuh oleh kandungan ayat-ayat Al-Qur'an. Tidak bergembira ayat-ayat yang berisi janji-janji Allah. Tidak takut dengan ayat-ayat ancaman. Tidak sigap kala mendengar ayat-ayat perintah. Biasa saja saat membaca ayat-ayat pensifatan kiamat dan neraka. Hati-hatilah, jika Anda merasa bosan dan malas untuk mendengarkan atau membaca Al-Qur'an. Jangan sampai Anda membuka mushhaf, tapi di saat yang sama melalaikan isinya. Ketahuilah, Allah swt. berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal." (Al-Anfal:2) 7. Ketika Anda melalaikan Allah dalam hal berdzikir dan berdoa kepada-Nya. Sehingga Anda merasa berdzikir adalah pekerjaan yang paling berat. Jika mengangkat tangan untuk berdoa, secepat itu pula Anda menangkupkan tangan dan menyudahinya. Hati-hatilah! Jika hal ini telah menjadi karakter Anda. Sebab, Allah telah mensifati orang-orang munafik dengan firman-Nya, "Dan, mereka tidak menyebut Allah kecuali hanya sedikit sekali." (An-Nisa:142) 8. Ketika Anda tidak merasa marah ketika menyaksikan dengan mata kepala sendiri pelanggaran terhadap hal-hal yang diharamkan Allah. Ghirah Anda padam. Anggota tubuh Anda tidak tergerak untuk melakukan nahyi munkar. Bahkan, raut muka Anda pun tidak berubah sama sekali. Ketahuilah, Rasulullah saw. bersabda, "Apabila dosa dikerjakan di bumi, maka orang yang menyaksikannya dan dia membencinya ����¶dan kadang beliau mengucapkan: mengingkarinya����¶, maka dia seperti orang yang tidak menyaksikannya. Dan, siapa yang tidak menyaksikannya dan dia ridha terhadap dosa itu dan dia pun ridha kepadanya, maka dia seperti orang yang menyaksikannya." (Abu Daud, hadits nomor 4345). Ingatlah, pesan Rasulullah saw. ini, "Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemahnya iman." (Bukhari, hadits nomor 903 dan Muslim, hadits nomor 70) 9. Ketika Anda gila hormat dan suka publikasi. Gila kedudukan, ngebet tampil sebagai pemimpin tanpa dibarengi kemampuan dan tanggung jawab. Suka menyuruh orang lain berdiri ketika dia datang, hanya untuk mengenyangkan jiwa yang sakit karena begitu gandrung diagung-agungkan orang. Narsis banget! Allah berfirman, "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (Luqman:18) Nabi saw. pernah mendengar ada seseorang yang berlebihan dalam memuji orang lain. Beliau pun lalu bersabda kepada si pemuji, "Sungguh engkau telah membinasakan dia atau memenggal punggungnya." (Bukhari, hadits nomor 2469, dan Muslim hadits nomor 5321) Hati-hatilah. Ingat pesan Rasulullah ini, "Sesungguhnya kamu sekalian akan berhasrat mendapatkan kepemimpinan, dan hal itu akan menjadikan penyesalan pada hari kiamat. Maka alangkah baiknya yang pertama dan alangkah buruknya yang terakhir." (Bukhari, nomor 6729) "Jika kamu sekalian menghendaki, akan kukabarkan kepadamu tentang kepemimpinan dan apa kepemimpinan itu. Pada awalnya ia adalah cela, keduanya ia adalah penyesalan, dan ketiganya ia adalah azab hati kiamat, kecuali orang yang adil." (Shahihul Jami, 1420). Untuk orang yang tidak tahu malu seperti ini, perlu diingatkan sabda Rasulullah saw. yang berbunyi, "Iman mempunyai tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan `Laa ilaaha illallah', dan yang paling rendah adalah menghilangkan sesuatu yang mengganggu dari jalanan. Dan malu adalah salah satu cabang dari keimanan." (Bukhari, hadits nomor 8, dan Muslim, hadits nomor 50) "Maukah kalian kuberitahu siapa penghuni neraka?" tanya Rasulullah saw. Para sahabat menjawab, "Ya." Rasulullah saw. bersabda, "Yaitu setiap orang yang kasar, angkuh, dan sombong." (Bukhari, hadits 4537, dan Muslim, hadits nomor 5092) 10. Ketika Anda bakhil dan kikir. Ingatlah perkataan Rasulullah saw. ini, "Sifat kikir dan iman tidak akan bersatu dalam hati seorang hamba selama-lamanya." (Shahihul Jami', 2678) 11. Ketika Anda mengatakan sesuatu yang tidak Anda perbuat. Ingat, Allah swt. benci dengan perbuatan seperti itu. "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tiada kamu perbuat." (Ash-Shaff:2-3) Apakah Anda lupa dengan definisi iman? Iman itu adalah membenarkan dengan hati, diikrarkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Jadi, harus konsisten. 12. Ketika Anda merasa gembira dan senang jika ada saudara sesama muslim mengalami kesusahan. Anda merasa sedih jika ada orang yang lebih unggul dari Anda dalam beberapa hal. Ingatlah! Kata Rasulullah saw, "Tidak ada iri yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harga, ia menghabiskannya dalam kebaikan; dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain." (Bukhari, hadits nomor 71 dan Muslim, hadits nomor 1352) Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw., "Orang Islam yang manakah yang paling baik?" Rasulullah saw. menjawab, "Orang yang muslimin lain selamat dari lisan dan tangannya." (Bukhari, hadits nomor 9 dan Muslim, hadits nomor 57) 13. Ketika Anda menilai sesuatu dari dosa apa tidak, dan tidak mau melihat dari sisi makruh apa tidak. Akibatnya, Anda akan enteng melakukan hal-hal yang syubhat dan dimakruhkan agama. Hati-hatilah! Sebab, Rasulullah saw. pernah bersabda, "Barangsiapa yang berada dalam syubhat, berarti dia berada dalam yang haram, seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanaman yang dilindungi yang dapat begitu mudah untuk merumput di dalamnya." (Muslim, hadits nomor 1599) Iman Anda pasti dalam keadaan lemah, jika Anda mengatakan, "Gak apa. Ini kan cuma dosa kecil. Gak seperti dia yang melakukan dosa besar. Istighfar tiga kali juga hapus tuh dosa!" Jika sudah seperti ini, suatu ketika Anda pasti tidak akan ragu untuk benar-benar melakukan kemungkaran yang besar. Sebab, rem imannya sudah tidak pakem lagi. 14. Ketika Anda mencela hal yang makruf dan punya perhatian dengan kebaikan-kebaikan kecil. Ini pesan Rasulullah saw., "Jangan sekali-kali kamu mencela yang makruf sedikitpun, meski engkau menuangkan air di embermu ke dalam bejana seseorang yang hendak menimba air, dan meski engkau berbicara dengan saudarmu sedangkan wajahmu tampak berseri-seri kepadanya." (Silsilah Shahihah, nomor 1352) Ingatlah, surga bisa Anda dapat dengan amal yang kelihatan sepele! Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa yang menyingkirkan gangguan dari jalan orang-orang muslim, maka ditetapkan satu kebaikan baginya, dan barangsiapa yang diterima satu kebaikan baginya, maka ia akan masuk surga." (Bukhari, hadits nomor 593) 15. Ketika Anda tidak mau memperhatikan urusan kaum muslimin dan tidak mau melibatkan diri dalam urusan-urusan mereka. Bahkan, untuk berdoa bagi keselamatan mereka pun tidak mau. Padahal seharusnya seorang mukmin seperti hadits Rasulullah ini, "Sesungguhnya orang mukmin dari sebagian orang-orang yang memiliki iman adalah laksana kedudukan kepala dari bagian badan. Orang mukmin itu akan menderita karena keadaan orang-orang yang mempunyai iman sebagaimana jasad yang ikut menderita karena keadaan di kepala." (Silsilah Shahihah, nomor 1137) 16. Ketika Anda memutuskan tali persaudaraan dengan saudara Anda. "Tidak selayaknya dua orang yang saling kasih mengasihi karean Allah Azza wa Jalla atau karena Islam, lalu keduanya dipisahkan oleh permulaan dosa yang dilakukan salah seorang di antara keduanya," begitu sabda Rasulullah saw. (Bukhari, hadits nomor 401) 17. Ketika Anda tidak tergugah rasa tanggung jawabnya untuk beramal demi kepentingan Islam. Tidak mau menyebarkan dan menolong agama Allah ini. Merasa cukup bahwa urusan dakwah itu adalah kewajiban para ulama. Padahal, Allah swt. berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penolong-penolong (agama) Allah." (Ash-Shaff:14) 18. Ketika Anda merasa resah dan takut tertimpa musibah; atau mendapat problem yang berat. Lalu Anda tidak bisa bersikap sabar dan berhati tegar. Anda kalut. Tubuh Anda gemetar. Wajah pucat. Ada rasa ingin lari dari kenyataan. Ketahuilah, iman Anda sedang diuji Allah. "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji." (Al-Ankabut:2) Seharusnya seorang mukmin itu pribadi yang ajaib. Jiwanya stabil. "Alangkah menakjubkannya kondisi orang yang beriman. Karena seluruh perkaranya adalah baik. Dan hal itu hanya terjadi bagi orang yang beriman, yaitu jika ia mendapatkan kesenangan maka ia bersyukur dan itu menjadi kebaikan baginya; dan jika ia tertimpa kesulitan dia pun bersabar, maka hal itu menjadi kebaikan baginya." (Muslim) 19. Ketika Anda senang berbantah-bantahan dan berdebat. Padahal, perbuatan itu bisa membuat hati Anda keras dan kaku. "Tidaklah segolongan orang menjadi tersesat sesudah ada petunjuk yang mereka berada pada petunjuk itu, kecuali jika mereka suka berbantah-bantahan." (Shahihul Jami', nomor 5633) 20. Ketika Anda bergantung pada keduniaan, menyibukkan diri dengan urusan dunia, dan merasa tenang dengan dunia. Orientasi Anda tidak lagi kepada kampung akhirat, tapi pada tahta, harta, dan wanita. Ingatlah, "Dunia itu penjara bagi orang yang beriman, dan dunia adalah surga bagi orang kafir." (Muslim) 21. Ketika Anda senang mengucapkan dan menggunakan bahasa yang digunakan orang-orang yang tidak mencirikan keimanan ada dalam hatinya. Sehingga, tidak ada kutipan nash atau ucapan bermakna semisal itu dalam ucapan Anda. Bukankah Allah swt. telah berfirman, "Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: `Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia'." (Al-Israa':53) Seperti inilah seharusnya sikap seorang yang beriman. "Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: `Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.'" (Al-Qashash:55) Nabi saw. bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam." (Bukhari dan Muslim) 22. Ketika Anda berlebih-lebihan dalam masalah makan-minum, berpakaian, bertempat tinggal, dan berkendaraan. Gandrung pada kemewahan yang tidak perlu. Sementara, begitu banyak orang di sekeliling Anda sangat membutuhkan sedikit harta untuk menyambung hidup. Ingat, Allah swt. telah mengingatkan hal ini, "Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (Al-A'raf:31). Bahkan, Allah swt. menyebut orang-orang yang berlebihan sebagai saudaranya setan. Karena itu Allah memerintahkan kita untuk, "Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang terdekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros." (Al-Isra':26) Rasulullah saw. bersabda, "Jauhilah hidup mewah, karena hamba-hamba Allah itu bukanlah orang-orang yang hidup mewah." (Al-Silsilah Al-Shahihah, nomor 353). http://www.dakwatuna.com/2008/22-tanda-iman-anda-sedang-lemah/
 hanya dingin yang mampu memeluk erat tubuh mungil itu. rumput pelan pelan mulai basah oleh embun malam. kantuknya tlah lama hilang, pun rasa takut itu. hanya nyeri di sekujur tubuh dan perasaan kosong yang berhasil menggerogoti sukmanya. tetesan hangat mengalir ke jari-jari kakinya. meluncur pelan tanpa henti. ia berusaha bangun dan berjalan. kibasan tangannya menjejak rambut yang masai oleh keringat bau yang asing. tak ada yang berani mendekat. bahkan kunang-kunang tak rela menemani gelapnya. ia tak sadar kemana langkahnya membawa. ia rindu air, rindu pelita. matanya terpejam namun terus berjalan. tanpa rasa, terjerembab dari satu lubang ke lubang lainnya. tak mampu merintih lagi. suaranya telah hilang bersama seluruh harga dirinya. ia merasa sendiri dan sepertinya gelap itu tak henti membayangi diri. semua senyap dan diam. ia hilang. Seteguk Air handuk basah membuatnya menggigil. hari sudah terang, meski hatinya tetap gelap. bau asap menusuk hidungnya. aroma nasi kukus mengoyak lambung yang berontak. tapi ia tak mampu bangkit. nyeri di sekujur tubuh masih terasa sangat. kaki-kakinya tak bisa bergerak. kalaupun bergeser sedikit, terasa ngilu dan pedih. ada dedaunan hangat hampir mengering menyelimuti seluruh tubuhnya. ia tak paham apa yang terjadi. semakin dalam ia mencoba mengingat, semakin perih terasa hingga ke nurani. seorang perempuan setengah baya menyeruak masuk menggendong baskom mengepul asap. bau daun sirih. perempuan itu menatapnya dengan mulut terkatup. ia tak bicara sepatah katapun. melodi pertemuan itu pun datar. tangannya yang kasar meraup sirih-sirih basah. mengganti daun yang hampir kering. ketika ia mencoba membersihkan wilayah kaki dan perut, bocah kecil itu mengerut dan menjerit lirih. tapi ia tak berontak. ia biarkan perempuan itu menjamahnya dengan cepat walau hati-hati. segumpal nasi hangat disorongkan ke kerongkongannya. ia melalap lahap. begitu pun bergelas-gelas air dalam kendi. Semua lumat dalam sekejap. hidangan terakhir, segelas minuman pahit disodorkan. ia agak meronta. baunya tajam dan memuakkan. Perempuan di depannya cuma tersenyum. Ia mencoba meneguknya sekali lagi, mengikuti anggukan perempuan itu. Semua habis. Ia kembali lelap. Ia tak ingat berapa lama ia telah berbaring disitu. Yang jelas, ia kini sudah mampu berjalan. Perempuan yang menungguinya menyampiri sebungkal batu apung dan minyak yang harum sekali baunya. Air yang dingin terasa menyegarkan. Pertama kali sejak kegelapan itu ia merasakan kembali kehidupan. Tubuhnya yang telanjang mulai jernih warnanya. Masih ada sisa-sisa lebam kehitaman, namun tak banyak. Ia mengurut-ngurut betisnya yang mungil. Rasa sakit yang didera di sekitar paha dan perut telah lama hilang. Yang tersisa cuma kepedihan dalam ingatannya saja. Saat air diguyurnya dari atas hingga bawah, ia bersumpah untuk melupakan kegetiran itu. Ia belajar tersenyum dan berdiri kokoh, meski ia tak tau apa yang akan dihadangnya didepan kelak.
beberapa perempuan datang padaku, dalam gelap malam maupun pagi berembun. Ketika kantukku masih belum hilang, ketika sadarku masih belum datang. mereka minta aku tak datang ke rumah cinta mereka. mereka minta aku enyah dari labirin hati pilar pilar hidup mereka. siapa yang mengundang ? siapa yang tertarik datang ? aku tak bilang apa-apa. aku cuma diam dan berpikir. jadi aku, masih merupakan ancaman ? sihir mana yang telah rasuki jiwa perempuan-perempuan itu ? bisikku masih mengganggu sayap-sayap kekasihmu berkepak ? ah! aku tak tertarik pejantan di sangkarmu. aku sudah punya! sarangku pun telah penuh dengan nektar dan bising canda penuh cinta. aku membangun koloniku sendiri. tak pernah menoleh sarangmu, sekilaspun! pejantan-pejantan kalian memang bertandang sesekali. menebar bunga dan membagi bibit untuk tamanku yang mulai sesak. mereka seringkali enggan menebar cerita hangatnya sarang kalian. aku tak pernah bertanya juga. bukan urusanku! kami punya masa lalu bernama hangat. kami memiliki taman yang selalu harum. itu pilihan. ketika mereka pergi dan aku bangkit sendiri, aku pun tak peduli. begitu pun, ketika mereka kembali, menyambangi. nektar mereka masih hangat dan harum. aku tau yang bisa kuambil dan yang harus kubuang. mereka juga tau. biarkan seperti itu. pejantan-pejantan kalian tak semestinya dikurung dalam sangkar cinta. karena aromanya seringkali meruap-ruap ke angkasa. masuk ke bilik-bilik taman lain. entah mampir ke kamarku, entah yang lain. pejantanku tertawa. bulir-bulir bening di taman, pun.. tertawa. itu biasa. itu cinta. kami tau yang mana yang bisa kami saring dan jadikan pengharum ruang. kami tau yang mana yang terlarang. jadi, enyahlah pikiran itu. jangan biarkan desisku bangkit dari kegelapan. menghirup jiwa-jiwa pejantan milikmu. dalam tidur ..tidakkah kalian lihat, bentangan sayapku begitu lebar. ia mampu memelukmu jua.. jangan terbirit pindahkan sarang. sebab mimpi, karena cinta, menembus batas cakrawala kemungkinan. biarkan ia tumbuh dewasa, jangan kekang. biarkan ia menari leluasa, namun jangan lepaskan pandang.
komunikasi yang aneh di antara kita: lewat mimpi! Menyebalkan dan absurd.. Intimasi kita, juga lewat mimpi! bujang penakut yang tak gentle menjadi kawan.. ingin rasa cabut jiwamu ke angkasa.. tanpa peduli pemilik cinta menggayut lemah tak kuasa, rebahkan tubuhmu dalam satu jiwa surga. Dia telah miliki dirimu, namun bukan hati ? omong kosong! Timang, timang, mimpi lama kita. Anganmu tentang kebersamaan mengoyak bebal pagi buta. Aku tak mampu membenam benihmu dalam tangkup mahkotaku lagi. Usir saja mimpi itu, dan mari buka pintu. Biarkan ia melihat kita. Biar dia tahu, aku tak mau hatimu.. apalagi jiwamu. Tak perlu terancam hatinya akan pinangan masa lalu. Ingin itu telah pergi. Enyahlah juga jika kau tak berani.
ajari aku, mencinta tanpa tangisi pergimu melebur rindu dalam sendiri digayut malamku sepi tanpa peduli, tlah hilang segenggam cerita antara kita tinggalkan buih kenangan dalam memori usang. ajari aku, menari dalam dera derita kosong tatapmu mengulum senyum yang tak pernah bosan kau sebar waktu itu masa lalu yang kutahu tak kan pernah kembali hanya membatu, dalam dasar lubuk nurani ini ajari aku, dalam mimpimu kan kutangkap tanpa jemu belai hangat yang pupus oleh waktu.. 
Release Date: February 6, 2008 Director & Scriptwriter: Monty Tiwa Casts: Jamie Aditya, Francine Roosenda, Alex Abbad, Dewi Sandra, Erron Lebang, Sarah Sechan, Ingrid Wijanarko, Barry Prima, Tutie Kirana, Tarzan Production Company: Starvision Waktu pertama kali mo nonton pelem ini, ruarrr biasa.. kursi fully booked, even untuk waktu tayang berikutnya. Tampaknya semua orang mengharap lebih dari film komedi beriming-iming Mak Erot ini. Curiosity, terutama untuk hal-hal berbau sex dan vulgar, memang sangat laku dijual. Basic Instinct!  Tapi begitu berhasil nonton, kuciwa bratts! Para pemain yang rata-rata bermain bagus tidak diimbangi dengan skenario yang asyik. Alur crita lamban dan seringkali gak nyambung. Gak usah ngomong penyutradaraan, teknik kamera - visual fotografi, etc.. bener-bener gak semangat. Joke-joke segar yang disampaikan gank VJ MTV gak berhasil mengocok sense of humor. Garing! Kesan umum: pelem ini dibuat asal-asalan! Kurang serius. Jadi males ngebandingin sama pelem-pelem lain, even pelem endonesah lain yang udah mulai menggeliat unjuk gigi. Semuanya serba tanggung dan maksa abis! Mungkin produsernya dah keabisan duit buat bayar para pemaen, dan bener-bener menggantungkan diri pada kemampuan mereka plus legenda Mak Erot. Sayang banget! padahal ceritanya simple dan para pemaen berusaha natural. Kalo mo crita lengkapnya, nih, dikutip dari sini Deni (Jamie Aditya) has never had sex before, nor felt confident with his manhood. As he is constantly worried about not being able to satisfy his future wife Vicky (Dewi Sandra), his friends persuade him to consult wacky sex therapist Mak Erot (Sarah Sechan) and rent a hooker named Intan (Francine Roosenda) to assist Deni in becoming a grown man. Yet, what initially starts off as pointless sexual relationship blossoms into emotional affection, just when Deni is approaching his own wedding ceremony.
 | CJ7 | Feb 7, '08 10:24 AM for everyone |
CJ7 (traditional Chinese: 長江七號; pinyin: Chang Jiang qi hao) is a 2008 science fiction/comedy film written, produced and directed by Stephen Chow, who also stars in the film. It was released on January 31, 2008 in Hong Kong. Pelem anak-anak, tapi juga menyegarkan buat orang dewasah.. RECOMMENDED. Bahasanya sih, Cantonese, tapi ada subtitle English/Endonesah kok.. don't worry.. Selaen bikin terpingkal, CJ7-nya juga lutuuuuuuuuu banget. Yap, CJ7 itu anjing angkasa luar yang jadi pet si anak miskin, Dicky. Stephen Cow ? Selain jadi sutradara, belio juga jadi babehnya yang selalu ngajarin hal-hal terpuji meski bodoh dan miskin.. Untuk penggemar pelem hongkong, para pemaennya gak asing lagi, ada Lam Chi Chung, Kwok Kuen Chan, and bintang baru, si cantik Kitty Zhang.. Gue yakin, kalo dia ngajar anak SMA atau kuliahan, pasti banyak yang gak konsentrasi tuh.. saking cantik and lembutnya kekekeke.. Critanya ? Simple banget, makanya cocok buat segala usia.. Yang gue suka alurnya. Sialan banget! dari ngajak kita terpingkal-pingkal, sampe ngajak nangis! nyebelin kan! Lumayan top lah si Stephen buat ngaduk-ngaduk isi hati penonton. Zahra aja sampe berurai air mata.. pertama, uraian karena gelak tawa.. trakhir, karena haru biru.. ck ck ck ck.. Next, Extra Large – Antara Aku, Kau dan Mak Erot ! hahaha!
entah kenapa, sejak ada si aziz yang menendang-nendang dinding uterus semua berjungkir balik. nonton film thriller maupun horor, meski gak puas dengan kehororannya, bisa membuat aku malas ke toilet  pertama nonton "I am Legend" , meski permainan Si Will oke banget.. tetap tak puas.. rasanya ceritanya datar dan hambar.. biasa banget! Aku ke toilet berkali-kali, tetep aja bisa tau, urutan ceritanya nantinya gimana dan apa yang terjadi.. huah! membosankan. kedua, nonton "Golden Compass", critanya nemenin Zahra ..malah bikin aku ngantuk brats! Pake bersambung lagi .. ih.. males banget.. terpaksa harus ngarang crita buat Zahra, kira-kira nanti terusannya gimana..  ketiga, liat trailer "kawin kontrak" sama "Mereka bilang saya monyet" bener bener bikin ilfil sama filem indonesah.. Gak ada cerita lainnnnnn apa ya.. yang dijadiin tema.. cuapek deh... apalagi harus nerangin ke Zahra, kenapa adegan adegan trailer bisa seseronok itu padahal disebelahnya ada trailer "Golden Compass", "Alvin The Chipmunk" dan "Bee Movies".. Penat! . trakhir, nonton "1408" dengan harapan bisa memicu andrenalin.. tapi gagal total! yang jelas aku muntah muntah karena bosan .. alhasil ke toilet lagi.. toilet yang sepi di tengah malam.. dan membayangkan "suster ngesot" lagi cekikikan nemenin aku yang sendirian..  Biasanya pilem-pilem bisa membangkitkan semangatku.. tapi kali ini TIDAK! Aku tak terpuaskan! malah ketakutan gak jelas dan muntah-muntah! Mencoba objektif disaat terjangan aziz makin berasa, ternyata sukar. Tapi emang bener kok.. pelem-pelem itu semuanya melempem... kurang perkasa membuatku bangun dari stagnansi ini.. help... source of pics: multiply.
 | Beowulf | Nov 28, '07 2:30 AM for everyone |
Beowulf is an old English heroic epic poem of anonymous authorship. Its creation dates to between the 8th and the 11th century, the only surviving manuscript dating to circa 1010. At 3183 lines, it is notable for its length. It has risen to national epic status in England. In the poem, Beowulf, a hero of the Geats, battles three antagonist: Grendel; who is attacking the Danish mead hall called Heorot and its inhabitants; Grendel's mother; and, later in life after returning to Geatland (modern southern Sweden) and becoming a king, an unnamed dragon. He is mortally wounded in the final battle, and after his death he is buried in a barrow in Geatland by his retainers. There, the real story from the poem.. which probably part of other stories that has burnt and long forgotten. The hollywood part, as always, is the funny one. The animation is not bad, but really a joke. For short sample, the Beowulf itself, that are played by Ray Winstone. If you want to see the real-natural Ray, check this out.. yes, he isn’t the six pack at all The rate is vary, age 12, age 13 or even adult (in Indonesia), measured by naked Angelina Jolie over there which is not really nude or can you call it one ? The story, off course, made it slick and commercial enough, Hollywood style, interprets the story a lil bit obvious. Those who have read the poems, perhaps, see this movie as too light. I, myself, see it as .. just another movie technique.. thought it would be dramatic like Lord of The Ring or something.. it fails me. And worse, took Zahra to watch.. made me perfectly bad mom .. hahahaha! My recommendation? For pleasure only, it is not bad.. It deserves 3 out of 5 ! For those who wants to enjoy the poems, check this page. Prepare with your old English dictionary.
| |