Sunyi. Tangan menari di atas keyboard menyari isi hati. Hanya suara ketukan itu saja yang terdengar. Jari beradu dengan tombol pencacah huruf. Sebuah email melayang terbaca. "how are you today" "where are you" kalimat-kalimat biasa. Kadang, saking biasanya, cenderung membosankan. Namun ini dari dia! Tidak mungkin membosankan.
Balasan email melayang. "Aku di rumah. Lagi malas saja. Sedikit sakit kepala. Sedang kerja." Tak sampai 2 menit, witheld number. Nyanyian konyol ring tone "You've got the phone call, baby". Tanpa basa basi. Berlagak serak.
"It's me. Kamu sendiri ?"
"Tidak juga. Ada 2 orang di dapur, sedang bekerja. Satu orang di depan, bekerja juga. Basically ada 4 orang di rumah ini. Kenapa ?"
"Bicaralah sekarang. Jangan malu-malu. Katakan apa maumu dariku"
"Mau mu dariku? Permintaan yang aneh"
"Tidak ada yang aneh. Tiap orang selalu melihat yang lain aneh, padahal ia dilihat yang lain juga aneh. Belum ada kesepahaman, hingga kita bicara langsung. Kamu mau bicara langsung?"
"Ini langsung." Zona tak bersahabat. Suara tak jelas terdengar. Tapi tak mengapa. Ini dia!
"Maksudku, langsung. Bertemu. Tapi kamu tidak siap. Tak apa. Aku paham"
"Hai, ada apa ? ini hari masih demikian pagi. Pasti di tempatmu pagi sekali. Masih gelap?"
"Aku sedang membuka jendela,matahari baru terbit. Pekerjaan yang menyenangkan. Tenang, tidak ada orang. Udara bersih. Setiap hari pemandanganku bagus, sunrise!"
"Enak sekali. Kapan aku bisa melihatnya ? Apa ada bunga ?"
"Tentu, silly. Ini perusahaan lelang bunga. Apa yang kau harapkan ?"
"I don't know. So, wassup ?"
"Kamu memiliki kesempatan hari ini untuk berbicara padaku, apa yang ingin kau tanya. Tanyalah. Akan aku jawab sekarang. Jujur."
"Kamu masih mencintaiku ?"
"Sangat"
"Setelah bertahun-tahun berlalu. Setelah semuanya hangus terbakar ?"
"Jangan kembali ke masa lalu. Aku sekarang disini. Kita bisa memulai sesuatu yang baru, kau mau ?"
"Tawaran menarik. Tapi apa bisa ?"
"Kenapa tidak ? Kamu tidak yakin ? Apa kamu berada dalam fantasimu ? Atau dalam dunia nyata ?"
"Kamu yang ada di fantasi, aku di dunia nyata. Fantasiku, ada bersamamu. Dunia nyata, tidak."
"Kamu tidak tertarik menjadikan fantasi sebagai kenyataan ?"
"Kenapa tidak ? Tapi apa bisa ?"
"Aku percaya semuanya bisa terjadi. Asal kamu mau"
"Kamu menyia-nyiakan banyak waktu untuk mengatakan ini sekarang. Apa yang kau pikirkan ?"
"Aku percaya masa depan. Kamu masih menyimpan luka lama, ya ? Tidak bisa kita bersihkan sekarang ?"
"Tentu saja bisa. Itu butuh proses saja. Kamu bisa ?"
"Tentu saja. Kenapa tidak. Aku sudah harus bekerja. Orang-orang sudah mulai ramai. Kamu baik-baik saja ya. "
"Ok. Thanks for calling ya. Appreciate it."
Sunyi. Ketukan jari di atas keyboard kembali. Kali ini lebih kencang dan cepat. Beberapa pekerjaan tertinggal harus dikejar. Done. Kembali ke nota terakhir. Dimana tadi pekerjaan itu terbengkalai. Sunyi.
Ketukan jari. Ada email masuk. "Hi there, kelihatannya kamu tidak serius tadi ? Kamu masih luka ya ? aku tidak akan memaksamu. Take your time. Aku tidak akan memintamu bertemu aku lagi. It's your decision now. Aku disini. Kapan pun kau mau."
"kamu terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan. Jangan terlalu tegang lah. Tunggu saja, mungkin aku bisa ada di depan pintumu sekarang"
"Kamu tahu dimana aku tinggal ?"
"What ? Kamu pindah ?"
"Ya, baru beberapa minggu. Surprise!"
"Sialan. Untuk hal begini, kamu tidak cerita. Tidak surprise lagi! Menyebalkan."
"Aku menyiapkan segalanya. Termasuk untuk tinggal disana, di Jakarta. Jika kau mau"
"Kamu orang miskin. Kapan kamu bisa mewujudkannya ? 10 tahun lagi ? Sekarang saja kamu sudah botak. Aku tidak mungkin hamil 10 tahun mendatang. Tidak akan ada anak. Kamu mau ?"
"Aku memikirkannya. Tunggu aku."
Senyap. Tak ada ketukan lagi.